* Apabila pembaca mendapatkan kesalahan mohon berkenan mengoreksi (terima kasih).

Selasa, 18 Maret 2008

1.3 Murakkab (Susunan Kalimat), Maca-macam dan I’rabnya (Bag.1)

Murakkab adalah suatu perkataan yang tersusun dari dua kalimat atau lebih yang mempunyai faidah, baik faidahnya secara sempurna, seperti:
"النجاةُ فى الصدق"
Kesuksesan itu ada pada kejujuran

atau faidahnya belum sempurna, seperti:
نور الشمس. الإنسانية الفاضلة. إن تُتقِن عَمَلك
Cahaya matahari
Sifat kemanusiaan yang sempurna
Jika engkau yakin pada perbuatanmu.

Murakkab ada enam, yaitu: Murakkab isnady (jumlah), murakkab idhafy, murakkab bayany, murakkab ‘athfy, murakkab mazjy, murakkab ‘adady.

3.1 Murakkab Isnady atau Jumlah
Isnad artinya hukum dengan sesuatu, sebagaimana hukum atas Zuhair dengan kesungguhan, dalam kalimat:
"زُهيرٌ مجتهد"
Zuhair itu orang yang bersungguh-sungguh.

Yang menerima suatu hukum itu disebut musnad
Yang dikenai hukum itu disebut musnad ilaih.
Jadi, musnad adalah lafazh yang engkau memberi suatu hukum dengan lafazh tersebut. Sedangkan musnad ilaih adalah lafazh yang engkau memberi hukum kepada lafazh tersebut.
Murakkab isnady, yang disebut pula dengan jumlah, adalah jumlah yang tersusun dari musnad dan musnad ilaih, contoh:
الحلمُ زينٌ. يُفلحُ المجتهدُ
Lemah lembut itu hiasan
Beruntunglah orang yang bersungguh-sungguh

الحلمُ adalah musnad ilaih, karena engkau menyandarkan lafaz زينٌ kepadanya dan memberi hukum atasnya. Sedangkan lafazh زينٌ itu musnad (yang disandarkan), karena engkau menyandarkan lafazh tersebut kepada lafazh الحلمُ . Dan sungguh lafazh يُفلحُ disandarkan kepada lafazh المجتهدُ , maka lafazh يُفلحُ itu musnad ilaih dan lafazh المجتهدُ itu musnad.

Musnad ilaih itu adalah: fa’il, naib fa’il, mubtada, isim fi’il naqish, isim huruf yang beramal dengan amal laisa, isim inna dan akhwatnya, isim la nafy liljinsy.
Contoh-contoh:
فالفاعلُ مثلُ: "جاء الحق وزهقَ الباطل".
Fa’il, seperti: ”Kebenaran itu telah datang dan kepalsuan itu segera menghilang”.
ونائبُ الفاعل مثل: "يعاقبُ العاصون، ويثابُ الطائعون".
Naib Fa’il, seperti: ”Orang-orang yang durhaka akan disiksa, dan orang-orang yang taat akan diberi pahala”.
والمبتدأُ مثل: "الصبرُ مفتاحُ الفرَجِ".
Mubtada, seperti: ”Sabar itu kunci kelapangan”.
واسمُ الفعلِ الناقص مثلُ: {وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيماً حَكِيماً} [النساء: 17].
Isim fi’il naqish, seperti: ” Dan adalah Allah itu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
واسمُ الأحرفِ التى تعملُ عملَ "ليس" مثلُ: "ما زُهيرٌ كَسولا. تَعزّ فلا شيءٌ على الارض باقياً. لاتَ ساعةَ مندَمِ. إنْ أحدٌ خيراً من أحدٍ إلا بالعلمِ والعمل الصالح".
Isim huruf-huruf yang beramal seperti amal laisa, seperti:
- Zuhaer bukanlah orang yang malas.
-
-
- Tidaklah sekali-kali seorang lebih baik dari yang lain selain dengan ilmu dan amal shaleh.
واسمُ "إنّ" مثلُ: {ِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ} [آل عمران: 119].
Isim inna dan akhwatnya, seperti: ” Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”.
واسمُ "لا" النافية للجنس مثل {لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ ٱللَّهُ} [الصافات: 35].
Isim la nafy liljinsy, seperti: ”Tiada Tuhan selain Allah”.


Musnad yaitu: fi’il, isim fi’il, khabar mubtada, khabar fi’il naqish, khabar huruf-huruf yang beramal dengan amal laisa, khabar inna dan akhwatnya.
Musnad bisa berupa:
- Fi’il, seperti:
- {قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ} [المؤمنون: 1]
Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman

- Sifat yang dimusytaq dari fi’il, seperti:
الحق أبلجُ
Kebenaran itu lebih terang

- Isim jamid yang mengandung makna isim sifat yang musytaq, seperti:
الحقُ نورٌ، والقائمُ به أسدٌ
- (والتأويل: (الحق مضيء كالنورِ، والقائم به شجاع كالاسد).
Kebenaran itu lebih terang, dan yang berpegang teguh kepadanya adalah singa. (takwilnya: Kebenaran itu menyinari keperti cahaya, dan orang yang berpegang teguh kepadanya berani seperti singa).

Tentang mufrad dan musnad ilaih akan dijelaskan nanti pada pembicaraan tentang i’rab, pada sub judul Khulashah (kesimpulan) Bahasa Arab.

Kalam
Kalam adalah jumlah yang mempunyai faidah terhadap makna yang sempurna yang cukup dengan dirinya, seperti:
رأس الحكمةِ مخافةُ الله
Pokok dari hikmah adalah merasa takut kepada (azab) Allah.
. فاز المُتَّقون
Beruntunglah orang-orang yang bertakwa.
من صدَق نج
Barang siapa yang benar pasti selamat.

Apabila jumlah itu belum mempunyai suatu faidah terhadap suatu makna yang sempurna yang cukup dengan dirinya, maka tidak disebut dengan kalam, seperti:
ان تجتهد في عملك
Jika engkau bersungguh-sungguh dalam amalmu

Maka kalimat ini jumlah yang belum mempunyai faidah, karena jawab syarat dari kalimat ini belum disebut dan tidak diketahui, maka ini tidak disebut dengan kalam, tetapi jika engkau telah menyebutkan jawabnya, seperti:
ان تجتهد في عملك تنجح،
Jika engkau bersungguh-sungguh dalam amalmu, engkau pasti sukses.
Maka kalimat ini menjadi kalam.

3.2 Murakkab Idhafy
Murakkab idhafy adalah kalimat yang tersusun dari mudhaf dan mudhaf ilaih, contoh:
Buku murid : كتاب التلميذ
Cincin perak : خاتم فضةٍ
Puasa nahar (arafah) : صوْم النهار

Hukum bacaan juz yang kedua itu dijarkan selamanya, sebagaimana engkau lihat.

3.3 Murakkab Bayany
Murakkab bayany adalah setiap dua kalimat yang kalimat keduanya menjelaskan makna dari kalimat pertama. Murakkab ini dibagi kepada tiga bagian, yaitu:
- Murakkab washfy, yaitu murakkab yang tersusun dari sifat dan maushuf, contoh:
فاز التلميذُ المجتهدُ.
Telah beruntung murid yang sungguh-sungguh.
أكرمتُ التلميذَ المجتهدَ.
Aku memuliakan murid yang sungguh-sungguh.
طابت اخلاقُ التلميذِ المجتهدِ
Telah bagus akhlak dari murid yang sungguh-sungguh.

- Murakkab taukidy (taukid), yaitu murakkab yang tersusun dari muakkad dan muakkid, contoh:
جاء القومُ كلُّهُم.
Kaum itu telah datang seluruhnya.
أكرمتُ القومَ كُلَّهم،
Aku memuliakan kaum itu seluruhnya.
، أحسنتُ إلى القوم كلِّهم
Aku menganggap baik kepada kaum itu seluruhnya.

- Muakkad badaly, yaitu muakkad yang terdiri dari badal dan mubdal minhu, contoh:
جاء خليلٌ أخوك
Telah datang Khalil saudaramu.
رأيت خليلاً أخاك
Aku telah melihat Khalil saudaramu.
. مررت بخليلٍ أخيكَ
Aku telah bertemu dengan Khalil saudaramu.

Hukum juz kedua dari murakkab bayany adalah mengikuti juz yang pertama pada i’rabnya, sebagaimana engkau lihat.


3.4 Murakkab ’Athfy
Murakkab ’Athfy adalah murakkab yang disusun dari ma’thuf dan ma’thuf ilaih, dengan perantaraan huruf athaf diantara keduanya, contoh:
ينالُ التلميذُ والتلميذةُ الحمدَ والثَّناء، إذا ثابرا على الدرس والاجتهاد
Murid laki-laki dan murid perempuan menerima pujian dan sanjungan apabila keduanya selalu belajar dan bersungguh-sungguh.

Hukum lafazh setelah huruf athaf adalah mengikuti lafazh sebelumnya dalam i’rabnya.

3.5 Murakkab Mazjy
Murakkab mazjy adalah setiap dua kalimat yang keduanya disusun menjadi satu kalimat, seperti:
بعلبكْ وبيت لحمْ وحضْرموت وسيبويه وصباح مساء وشذر مذر

Apabila murakkab mazjy itu berupa alam, maka dii’rab dengan i’rab isim ghair munsharif, contoh:
بعلبكْ بلدةٌ طيبةُ الهواء
Ba’labak adalah negara yang udaranya sejuk.
سكنتُ بيت لحم
Aku tinggal di Baitulahmi (Betlehm).
سافرتُ إلى حضْرموْت
Aku pergi ke Hadhramaut.

Apabila keadaan juz keduanya itu lafazh "ويْه", maka dimabnikan kepada kasrah selamanya, contoh:
سيبويه عالمٌ كبيرٌ
Imam Sibawaih adalah seorang alim yang agung.
رأيتُ سيبويه عالماً كبيراً
Aku memandang Imam Sibawaih sebagai seorang alim yang agung.
قرأتُ كتاب سيبويه
Aku membaca kitab Imam Sibawaih.

Apabila keadaan murakkab mazjy itu bukan alam, kedua juznya dimabnikan kepada fatah, contoh:
زُرْني صباح مساء
Shabaha masaa (nama orang) mengunjungiku.
أنت جاري بيت بيت
Engkau, Baita baita (nama orang) tetanggaku.

3. 6 Murakkab ’Adady
Murakkab ’adady adalah bagian dari murakkab mazjy, yaitu setiap dua bilangan yang disusun dengan perantaraan huruf athaf yang ditakdirkan, yaitu bilangan dar أحد عشر sampai تسعة عشر . Dan dari الحادي عشر sampai الحادي عشر .
(Adapun bilangan واحد وعشرون sampai تسعة وتسعين tidak termasuk murakkab ’adady, karena huruf athafnya disebut, jadi termasuk murakkab ’athfy).
Harkat fatah pada kedua juz murakkab ’adady adalah wajib, baik keadaannya dirafa’kan, seperti:
جاء أحدَ عشر رجلاً
Telah datang sebelas laki-laki.

Atau dinashabkan, seperti:
{رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَباً} [يوسف: 4]
Aku melihat sebelas bintang.

Atau dijarkan, seperti:
أحسنتُ الى أحد عشر فقيراً
Aku berbuat baik kepada sebelas orang fakir.

Walaupun keadaan kedua juz ketika itu adalah mabni fatah, tetapi keadaan mahalnya dirafa’kan atau dinashabkan atau dijarkan, kecuali bilangan اثنيْ عشر , kalimat ini juz awalnya di’irab dengan i’rab mutsanna, yaitu rafa’nya dengan alif, seperti:
جاء اثنا عشر رجلاً
Telah datang dua belas laki-laki.

Nashabnya dengan ya, seperti:
أكرمتُ اثنتي عشرة فقيرةً باثني عشر درهماً".
Aku memuliakan dua belas orang fakir (perempuan) dengan dua belas dirham.

Dan juz keduanya dimabnikan kepada fatah, dan tidak ada mahal baginya dalam i’rab, maka lafazh itu menempati tempat nun dari mutsanna.
Dan bilangan yang berwazan فاعل yang tersusun dari lafazh العشرة seperti:
الحادي عشر sampai التاسع عشر maka kedua juznya dimabnikan kepada fatah, seperti:
جاء الرابع عشر
Telah datang yang kelima belas.
رأيتُ الرابعة عشْرة،
Aku melihat yang kelima belas.
مررتُ بالخامس عشر
Aku bertemu dengan yang kelima belas.

Kecuali apabila juz yang awalnya diakhiri dengan huruf ya, maka keadaan juz awal itu dimabnikan kepada sukun, seperti:
جاء الحادي عَشرَ والثاني عشرَ
Telah datang yang kesebelas dan yang kedua belas.
ورأيتُ الحاديَ عَشرَ والثانيَ عشرَ
Aku melihat yang kesebelas dan yang kedua belas.
ومررتُ بالحادي عَشرَ والثاني عشر
Aku bertemu dengan yang kesebelas dan yang kedua belas.

Hukum ’adad (hitungan) dan ma’dud (yang dihitung)
Jika keadaan ’adadnya satu atau dua maka hukumnya dimudzakkarkan beserta ma’dudnya mudzakkar, dan ’adadnya dimuannatskan jika ma’dudnya muannats.
Engkau berkata:
رجلٌ واحد، وامرأةٌ واحدة
Sorang laki-laki, dan seorang perempuan.
ورجلانِ اثنانِ، وامرأتان
Dua orang laki-laki dan dua orang perempuan.

Lafazh أحدٌ sebagaimana واحدٍ , engkau berkata:
أحدُ الرجال، احدى النساءِ
Seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Apabila ’adadnya dari tiga sampai sepuluh, wajib dimuannatskan beserta (yang dihitungnya) mudzakkar. Dan ’adad dimudzakkarkan beserta (yang dihitungnya) muannats, Engkau berkata:
ثلاثةُ رجالٍ وثلاثة أقلامٍ
Tiga laki-laki dan tiga pena.
ثلاث نساءٍ وثلاث أيدٍ
Tiga wanita dan tiga tangan.

Kecuali apabila ‘adanya العشرةُ (sepuluh) disusun, maka disesuaikan dengan ma’dud (yang dihitung), dimudzakkarkan beserta (yang dihitungnya) mudzakkar dan ‘adadnya dimuannatskan beserta (yang dihitungnya) muannats, Engkau berkata:
ثلاثة عشر رجلاً، وثَلاث عشْرة امرأةً
Tiga belas laki-laki dan tiga belas perempuan.

Apabila keadaan ‘adadnya berwazan فاعلٍ datang disesuaikan dengan ma’dud yang mufrad dan murakkab, engkau berkata:
البابُ الرابعُ، والبابُ الرابعَ عَشرَ
Bab yang keempat dan bab yang keempat belas.
الصفحة العاشرة، والصفحة التاسعةَ عشْرةَ
Halaman sepuluh dan halaman yang kesembilan belas.

Harkat huruf syin pada lafazh العشرةِ والعشر difatahkan beserta ma’dud yang mudzakkar, dan sukun beserta ma’dud yang muannats, engkau berkata:
عَشَرة رجال وأحد عشَرة رجلا
Sepuluh laki-laki dan sebelas laki-laki.
عَشَرة رجال وأحد عشَرة رجلا
Sepuluh perempuan dan sebelas perempuan.

1 komentar:

abuamie mengatakan...

ijin download ustad...syukron

Arsip Blog